Pelajaran tentang pengelolaan bisnis terkadang hadir sejak kita melewati pintu masuk sebuah kegiatan.

Pada Kamis, 10 September 2026, saya mengunjungi China International Fair for Trade in Services atau CIFTIS 2026 di Shougang Park, Beijing, sebagai bagian dari delegasi pelaku usaha Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Indonesia. Proses masuk menggunakan pengenalan wajah sesuai data pendaftaran menjadi salah satu pengalaman yang menarik perhatian saya.

Sepanjang kunjungan, saya merasakan koordinasi dan pengelolaan pameran yang rapi, dengan pendekatan digital yang terasa modern. Sebagai praktisi Human Capital, pengalaman ini mengundang pertanyaan: bagaimana teknologi, manusia, dan proses kerja disiapkan agar menghasilkan pelayanan yang teratur?

Pertanyaan itu semakin relevan ketika dihubungkan dengan sejarah Shougang Park, kawasan industri baja yang kini menjalankan berbagai fungsi baru.

Bersama SUMU, Membuka Ruang Belajar dan Jejaring

Kehadiran bersama delegasi SUMU memberikan konteks tersendiri bagi perjalanan ini. Serikat Usaha Muhammadiyah merupakan komunitas dan platform jejaring pengusaha yang diluncurkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada April 2023. Pada peluncurannya, SUMU diperkenalkan sebagai wadah berbasis digital di bawah koordinasi Lembaga Pengembang UMKM PP Muhammadiyah, dengan keterbukaan bagi pelaku usaha dari berbagai latar belakang. Mentoring menjadi salah satu pendekatannya untuk membantu pengusaha berkembang, termasuk mereka yang baru memulai usaha. Sumber: Muhammadiyah

Semangat belajar dan berjejaring tersebut relevan dengan kunjungan ke pameran internasional. Bagi saya, berada bersama komunitas pengusaha memberi ruang untuk melihat peluang dari beragam sudut pandang. Teknologi yang menarik bagi satu usaha dapat memunculkan kemungkinan penerapan yang berbeda bagi usaha lainnya.

Nilai perjalanan seperti ini kemudian ditentukan oleh kemampuan membawa pulang pembelajaran, memilah relevansinya, dan menyusun tindak lanjut.

Shougang Park dan Perubahan Cara Menciptakan Nilai

Shougang memiliki akar sejarah industri baja sejak 1919. Dalam perjalanan pembangunan Beijing, kegiatan produksi baja di lokasi tersebut dihentikan dan direlokasi. Pembaruan kawasan kemudian memperoleh momentum melalui persiapan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Sumber: Laporan Warisan Beijing 2022

Kini, bekas fasilitas industrinya dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk pameran CIFTIS, ruang peluncuran produk, pengalaman teknologi, serta aktivitas budaya dan rekreasi. Shougang Park memperlihatkan bagaimana warisan industri dapat memperoleh fungsi ekonomi dan sosial yang baru. Sumber: Pemerintah Beijing

Jejak tersebut juga hadir dalam penamaan ruang. Pada papan informasi kegiatan, M8—lokasi conference dan business matching yang saya ikuti—tercantum sebagai Repair Workshop Meeting Rooms. Nama itu menghubungkan identitas bengkel industri dengan fungsi pertemuan masa kini.

Dari perspektif strategi bisnis, perubahan ini mengajak kita membaca kembali potensi aset. Bangunan, lokasi, sejarah, dan pengetahuan yang telah dimiliki dapat menjadi titik awal pengembangan nilai baru.

Dari perspektif Human Capital, pertanyaannya berlanjut: kompetensi dan cara kerja seperti apa yang dibutuhkan untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut?

Menjelajahi Teknologi, Membaca Kebutuhan Manusia

Selama kunjungan, saya menjelajahi exhibition venue 1, 3, 5, 6, dan 8. Berdasarkan informasi venue, cakupannya meliputi pameran tematik; telekomunikasi, komputer, dan layanan informasi; lingkungan dan energi; olahraga; serta pendidikan.

Keragaman itu menyediakan bahan refleksi tentang hubungan antarsektor. Teknologi informasi dapat mendukung pendidikan, sementara kebutuhan lingkungan dan energi membuka pembahasan mengenai cara kerja yang lebih berkelanjutan.

Bagi pengelola usaha, tantangannya adalah menentukan relevansi. Sebuah teknologi perlu dinilai berdasarkan masalah yang hendak diselesaikan, kesiapan pengguna, dan perubahan proses yang diperlukan.

Di sinilah Human Capital berperan. Kemampuan menggunakan perangkat perlu disertai kecakapan memahami kebutuhan pelanggan, bekerja lintas fungsi, dan menilai hasil. Pengembangan manusia harus terhubung dengan tujuan penerapan teknologi.

Pelayanan Digital dan Kesiapan Organisasi

Pengalaman pengenalan wajah di pintu masuk memberi contoh konkret tentang titik pertemuan teknologi dan pelayanan. Sebagai pengunjung, saya mengalami hasil akhirnya: proses yang terhubung dengan pendaftaran dan pengelolaan kegiatan yang terasa terkoordinasi.

Pengamatan tersebut tentu belum menjelaskan seluruh sistem kerja di belakangnya. Namun, pengalaman itu menjadi dasar untuk merefleksikan kebutuhan organisasi yang menggunakan layanan digital.

Petugas perlu memahami alur layanan, mengetahui batas tanggung jawabnya, dan mampu membantu ketika pengguna mengalami kendala. Koordinasi antarfungsi juga perlu memastikan bahwa persoalan dapat ditangani tanpa membingungkan pengunjung.

Dalam usaha sehari-hari, prinsip serupa berlaku ketika kita menerapkan pemesanan daring, pencatatan pelanggan, atau pembayaran digital. Manfaatnya akan lebih terasa ketika tim memahami cara menggunakannya dan pelanggan memperoleh pengalaman yang jelas.

Business Matching dengan Nova AI: Dari Teknologi menuju Kebutuhan Bisnis

Selain menjelajahi pameran, saya mengikuti conference dan business matching di M8. Salah satu pertemuan adalah dengan pemilik Nova AI untuk membahas pembuatan konten film pendek.

Pertemuan ini menjadi kesempatan menjajaki hubungan antara teknologi dan kebutuhan industri kreatif. Dalam refleksi saya, pembahasan konten film pendek perlu dimulai dari tujuan: pesan apa yang hendak disampaikan, siapa penontonnya, dan respons apa yang diharapkan?

Dari sana, kebutuhan teknis dapat dirumuskan dengan lebih jelas. Kualitas cerita, kesesuaian visual, dan ketepatan pesan tetap memerlukan pertimbangan manusia.

Bagi pelaku usaha, business matching menuntut kemampuan mendengar, menjelaskan kebutuhan, dan menguji kecocokan mitra. Pertemuan awal perlu diterjemahkan menjadi ruang lingkup serta langkah berikutnya yang dipahami bersama.

Karena itu, ukuran kemajuan tidak cukup berhenti pada pertukaran kontak. Kejelasan kebutuhan dan tindak lanjut merupakan indikator awal yang lebih berguna.

Transformasi Membutuhkan Kesempatan untuk Beradaptasi

Membaca Shougang Park dari sisi Human Capital juga berarti memperhatikan manusia yang mengalami perubahan industri.

Perubahan fungsi kawasan memunculkan pertanyaan tentang keterampilan pekerja, kesempatan belajar, serta akses terhadap peran baru. Saya tidak memiliki data internal untuk menyimpulkan bagaimana seluruh proses transisi tenaga kerja Shougang dijalankan. Pertanyaan tersebut tetap penting sebagai lensa evaluasi transformasi.

Bagi organisasi, pilihan pengembangan kompetensi, perekrutan, dan kemitraan memiliki konsekuensi berbeda. Pengembangan tim membutuhkan waktu belajar dan praktik. Perekrutan memerlukan biaya serta proses adaptasi. Kemitraan membutuhkan koordinasi agar ketergantungan dapat dikelola.

Pilihan yang tepat perlu berangkat dari kebutuhan usaha dan kemampuan yang telah tersedia.

Membawa Pulang Langkah yang Realistis

Bagi UMKM, pembelajaran ini dapat diterapkan melalui pendekatan Start Small, Validate, Scale: mulai kecil, uji manfaatnya, lalu perluas berdasarkan hasil.

Pertama, tentukan satu masalah yang jelas, seperti respons pelanggan yang lambat atau proses produksi konten yang belum terarah.

Kedua, petakan kemampuan tim dan tetapkan penanggung jawab. Pilih dukungan teknologi atau mitra sesuai kesenjangan yang ditemukan.

Ketiga, lakukan uji terbatas. Untuk konten film pendek, misalnya, mulai dari satu kebutuhan komunikasi dengan sasaran audiens yang jelas.

Keempat, evaluasi kualitas hasil, waktu pengerjaan, biaya, dan respons audiens. Gunakan temuan itu untuk memutuskan apakah penerapan perlu diperbaiki, dilanjutkan, atau diperluas.

Kunjungan ke CIFTIS 2026 mempertemukan saya dengan teknologi, manusia, dan kemungkinan kerja sama. Shougang Park memberi latar yang kuat untuk memahami bahwa perubahan arah membutuhkan kesiapan pada banyak sisi.

Ketika kita membuka peluang bisnis baru, sudahkah kita menyiapkan kemampuan manusia dan cara kerja untuk menjalankannya?

Leave a comment